Ummu Sulaim, si Cerdas yang Dijamin Surga
Minggu, 28 Mei 2017
Add Comment
Ia seorang wanita keturunan bangsawan
dari kabilah Anshar suku Khazraj memiliki sifat keibuan dan berwajah manis
menawan. Selain itu ia juga berotak cerdas penuh kehati-hatian dalam bersikap,
dewasa dan berakhlak mulia, sehingga dengan sifat-sifatnya yang istimewa itulah
pamannya yang bernama Malik bin Nadhar melirik dan mempersuntingnya. Rumaisha
Ummu Sulaim binti Milhan bin Khalid bin Zaid bin Malik adalah satu dari wanita
saliha yang memiliki kedudukan istimewa di mata Rasulullah.
Pada saat Rasululllah menyerukan
dakwah menuju tauhid, tanpa keraguan lagi Ummu Sulaim langsung memeluk agama
Islam, dan tidak peduli akan gangguan dan rintangan yang kelak akan dihadapinya
dari masyarakat jahili paganis.
Namun suaminya, Malik bin Nadhir
sangat marah saat mengetahui istrinya telah masuk Islam. Dengan dada gemuruh
karena emosi, ia berkata pada Ummu Sulaim: “Engkau kini telah terperangkap
dalam kemurtadan!”
“Saya tidak murtad. Justru saya kini
telah beriman,” jawab Ummu Sulaim dengan mantap. Dan kesungguhan Ummu Sulaim
memeluk agama Allah tidak hanya sampai di situ. Ia juga tanpa bosan berusaha
melatih anaknya, Anas, yang masih kecil untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Melihat kesungguhan istrinya serta
pendiriannya yang tak mungkin tergoyahkan membuat Malik bin Nadhir bosan dan
tak mampu mengendalikan amarahnya. Hingga ia kemudian bertekad untuk
meninggalkan rumah dan tidak akan kembali sampai istrinya mau kembali kepada
agama nenek moyang mereka. Ia pun pergi dengan wajah suram. Sayangnya, di
tengah jalan ia bertemu dengan musuhnya, kemudian ia dibunuh..
Saat mendengar kabar kematian suaminya
dengan ketabahan yang mengagumkan ia berkata, “Saya akan tetap menyusui Anas
sampai ia tak mau menyusu lagi, dan
sekali-kali saya tak ingin menikah lagi sampai Anas menyuruhku.”
Setelah Anas agak besar, Ummu Sulaim
dengan malu-malu mendatangi Rasulullah dan meminta agar beliau bersedia
menerima Anas sebagai pembantunya. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun
menerima Anas dengan rasa gembira. Dan dari semua keputusannya itu, Ummu Sualim
kemudian banyak dibicarakan orang dengan rasa kagum.
Baca>> Informasi Penting Bagi Ibu
Dan seorang bangsawan bernama Abu
Thalhah tak luput memperhatikan hal itu. Dengan rasa cinta dan kagum yang tak
dapat disembunyikan tanpa banyak pertimbangan ia langsung melangkahkan kakinya
ke rumah Ummu Sulaim untuk melamarnya dan menawarkan mahar yang mahal. Namun di
luar dugaan, jawaban Ummu Sulaim membuat lidahnya menjadi kelu dan rasa
kecewanya begitu menyesakkan dada, meski Ummu Sulaim berkata dengan sopan dan
rasa hormat,
“Tidak selayaknya saya menikah dengan
seorang musyrik, ketahuilah wahai Abu Thalhah bahwa sesembahanmu selama ini
hanyalah sebuah patung yang dipahat oleh keluarga fulan. Dan apabila engkau mau
menyulutnya api niscaya akan membakar dan menghanguskan patung-patung itu.”
Perkataan Ummu Sulaim amat telak
menghantam dadanya. Abu Thalhah tak
percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Namun itu semua merupakan
realita yang harus ia terima. Abu Thalhah bukanlah orang yang cepat putus asa.
Dikarenakan cintanya yang tulus dan mendalam terhadap Ummu Sulaim, di lain
kesempatan ia datang lagi menjumpai ibunda Anas dan mengiming-iming mahar yang
lebih wah serta kehidupan kelas atas.
Sekali lagi, Ummu Sulaim muslimah yag
cerdik dan pintar ini tetap teguh dengan keimanannya. Sedikit pun ia tidak
tergoda oleh kenikmatan dunia yag dijanjikan oleh Abu Thalhah. Baginya
kenikmatan Islam akan lebih langgeng daripada seluruh kenikmatan dunia. Masih
dengan penolakanya yang halus ia menjawab, “Sesungguhnya saya tidak pantas
menolak orang yang seperti engkau, wahai Abu Thalhah. Hanya sayang engkau
seorang kafir dan saya seorang muslimah. Maka tak pantas bagiku menikah
denganmu. Coba Anda tebak apa keinginan saya?”
“Engkau menginginkan dinar dan
kenikmatan,” kata Abu Thalhah. “Sedikitpun saya tidak menginginkan dinar dan
kenikmatan. Yang saya inginkan hanya engkau segera memeluk agama Islam,” tukas
Ummu Sualim tandas.
“Tetapi saya tidak mengerti siapa yang
akan menjadi pembimbingku?” Tanya Abu Thalhah. “tentu saja pembimbingmu adalah
Rasululah sendiri,” tegas Ummu Sulaim.
Maka Abu Thalhah pun bergegas pergi
menjumpai Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam yang mana saat itu tengah
duduk bersama para sahabatnya. Melihat kedatangan Abu Thalhah, Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam berseru, “Abu Thalhah telah datang kepada kalian,
dan cahaya Islam tampak pada kedua bola matanya.”
Ketulusan hati Ummu Sulaim benar-benar
terasa mengharukan relung-relung hati Abu Thalhah. Ummu Sulaim hanya akan mau
dinikahi dengan keislamannya tanpa sedikitpun tegiur oleh kenikmatan yang dia
janjikan. Wanita mana lagi yang lebih pantas menjadi istri dan ibu asuh
anak-anaknya selain Ummu Sulaim? Hinnga tanpa terasa di hadapan Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam lisan Abu Thalhah basah mengulang-ulang kalimat,
“Saya mengikuti ajaran Anda, wahai Rasulullah. Saya bersaksi, bahwa tidak ada ilah
yang berhak diibadahi kecuali Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah
utusanNya.”
Ummu Sulaim tersenyum haru dan
berpaling kepada anaknya Ana, “Bangunlah wahai Anas.”
Menikahlah Ummu Sulaim dengan Abu
Thalhah, sedangkan maharnya adalah keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang
perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, “Sama sekali aku belum pernah mendengar
seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman
suaminya.” Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan
sejahtera dalam naungan cahaya Islam.
Abu Thalhah sendiri adalah seorang
konglomerat nomor satu dari kabilah Anshar. Dan harta yang paling dia cintai
yaitu tanah perkebunan “Bairuha”. Tanah perkebunan itu letaknya persis
menghadap masjid. Dan Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah
minum air segar yang ada di lokasi itu, sampai kemudian turun ayat yang
berbunyi:
“Sekali-kali belum sampai pada
kebaktian yang sempurna sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu
cintai.” (Ali Imran:92)
Mendengar ayat ini, kontan Abu Thalhah
menghadap Rasulullah. Setelah membacakan ayat tadi Abu Thalhah melanjutkan,
“Dan sesungguhnya harta yang paling saya cintai adalah tanah perkebunan
Bairuha. Saat ini tanah itu saya sedekahkan untuk Allah dengan harapan akan
mendapatkan ganjaran kebaikan dari Allah kelak. Maka pergunakanlah sekehendak
Anda, wahai Rasulullah.”
Dan bersabdalah Rasulullah shollallahu
‘alaihi wasallam, “Bakh, bakh itu adalah harta yang menguntungkan dan saya
telah mendengar perkataanmu tentang harta itu dan saya sekarang berpendapat
sebaiknya engkau bagi-bagikan tanah itu untuk keluarga kalian.”
Abu Thalhah pun menuruti perintah
Rasululah dan membagi-bagikan tanah itu kepada sanak familinya dan anak
keturunan pamannya. Tak berapa lama Alah memuliakan seorang anak laki-laki
kepada pasangan berbahagia itu dan diberi nama Abu Umair. Suatu kali burung
kesayangan Abu Umair mati sehingga Abu Umair menangis dengan sedih. Saat itu
lewatlah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam di hadapannya. Melihat
kesedihan Abu Umair, Rasulullah segera menghibur dan bertanya, “Wahai Abu Umair
apa gerangan yang diperbuat oleh burung kecil?”
Namun takdir Allah memang tak mampu
diduga. Allah subhanahu wa ta’ala kembali ingin menguji kesabaran pasangan
sabar ini. Tiba-tiba saja, bocah mungil mereka Abu Umair jatuh sakit sehingga
ayah dan ibunya dibuat cemas dan repot. Padahal ia adalah putra kesayangan Abu
Thalhah. Jika ia pulang dari pasar, yang pertama kali ditanyakan adalah
kesehatan dan keadaan putranya dan ia belum mereasa tenang bila belum
melihatnya. Tepat pada waktu sholat, Abu Thalhah pergi ke masjid. Tak lama
setelah kepergiannya, putranya Abu Umair menghembuskan nafas terakhir.
Ummu Sulaim memang seorang ibu
mukminah yang sabar. Ia menerima peristiwa itu dengan sabar dan tenang. Ummu
Sulaim lantas menidurkan putranya di atas kasur dan berujar berulang-ulang,
“Innaa lillahi wa inna ilaihi rrji’un.” Dengan suara berbisik ia berkata kepada
sanak keluarganya, “Jangan sekali-kali kalian memberitahukan perihal putranya
pada Abu Thalhah sampai aku sendiri yang memberitahunya.”
Sekembalinya Abu Thalhah,
alhamdulillah, air mata kesayangan Ummu Sulaim telah mongering. Ia menyambut
kedatangan suaminya dan siap menjawab pertanyaannya.
“Bagaimana keadaan putraku sekarang?”
“Dia lebih tenang dari biasanya.”
Jawab Ummu Sulaim dengan wajar.
Abu Thalhah merasa begitu letih hingga
tak ada keinginan menengok putranya. Namun hatinya turut berbunga-bunga mengira
putranya dalam keadaan sehat wal afiat. Ummu Sulaim pun menjamu suaminya dengan
hidangan yang istimewa dan berdandan serta berhias dengan wangi-wangian,
membuat Abu Thalhah tertarik dan mengajaknya tidur bersama.
Setelah suaminya terlelap, Ummu Sulaim
memuji kepada Allah karena berhasil menentramkan suaminya perihal putranya,
karena ia menyadari Abu Thalhah telah mengalami keletihan seharian, sehingga ia
amembiarkan suaminya tertidur pulas.
Menjelang subuh, baru Ummu Sulaim
berbicara pada suaminya, seraya bertanya, “Wahai Abu Thalhah apa pendapatmu
bila ada sekelompok orang meminjamkan barang kepada tetangganya lantas ia
meminta kembali haknya. Pantaskan jika si peminjam enggan mengembalikannya?”
“Tidak,” jawab Abu Thalhah.
“Bagaimana jika si peminjam enggan
mengembalikannya setelah menggunakannya?” “Wah, mereka benar-benar tidak
waras,” Abu Thalhah menukas.
“Demikian pula putramu. Allah
meminjamkannya pada kita dan pemiliknya telah mengambilnya kembali. Relakanlah
ia,” kata Ummu Sulaim dengan tenang. Pada mulanya Abu Thalhah marah dan
membentak, “Kenapa baru sekarang kau beritahu, dan membiarkan aku hingga aku
ternoda (berhadats karena berhubungan suami istri)?”
Dengan rasa tabah Ummu Sulaim tak
henti-henti mengingatkan suaminya hingga ia kembali istirja dan memuji Allah
dengan hati yang tenang.
Pagi-pagi buta sebelum cahaya matahari
kelihatan penuh, Abu Thalhah menjumpai Rasulullah shollallahu ’alaihi wa sallam
dan menceritakan kejadian itu. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam pun
bersabda, “Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memberikan barakah pada malam
pengantin kalian berdua.”
Benar saja Ummu Sulaim lantas
mengandung lagi dan melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin
Thalhah oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan subhanallah
barakahnya ternyata tak hanya sampai di situ. Abdullah kelak di kemudian hari
memiliki tujuh orang putra yang semuanya hafizhul Qur’an. Keutamaan Ummu Sulaim
tidak hanya itu, Allah subhanahu wa ta’ala juga pernah menurunkan ayat untuk
pasangan suami istri itu dikarenakan suatu peristiwa. Sampau Rasulullah
shollallahu ‘alaihi wa sallam menggembirakannya dengan janji surga dalam
sabdanya
“Aku memasuki surga dan aku mendengar
jalannya seseorang. Lantas aku bertanya “Siapakah ini?” Penghuni surga spontan
menjawab “Ini adalah Rumaisha binti Milhan, ibu Anas bin Malik.”
Selamat untukmu Ibunda Anas!
Baca>> Berpuasa di Bulan Ramadhan

Belum ada Komentar untuk "Ummu Sulaim, si Cerdas yang Dijamin Surga"
Posting Komentar