Anak Hebat Berakhlak Mulia
Minggu, 28 Mei 2017
Add Comment
Semua
Orang tua pasti menginginkan anaknya menjadi orang yang hebat, penuh pecaya
diri, sukses, bisa menggapai cita-cita dalam hidupnya. Tentunya tak bisa
instant menjadikan anak seperti ini. Perlu penanganan yang sabar, pendidikan
terus menerus, dan keseriusan dari orang tua untuk mewujudkan hal itu, sejak
kecil sampai ia besar dan mandiri. Tentunya mustahil berhasil kalau kita selaku
orang tua hanya berpangku tangan, menunggu sampai saat berhasil itu tiba,
datang begitu saja. Orang tua justru dituntut secara aktif membantu anaknya
mencapai apa yang menjadi cita-citanya dan cita-cita mereka.
Bukan Pekerjaan Ringan
Mendidik anak agar kelak bisa menjadi
orang hebat bukanlah pekerjaan ringan dan mudah. Sekolah atau tempat pendidikan
formal tak bisa 100% menjadi tumpuan untuk mencetak si kecil menjadi orang
hebat sebagaimana yang kita harapkan. Banyak hal yang mempengaruhi keberhasilan
si kecil. Perkembangan fisik, kejiwaan, serta lingkungan menjadi faktor penentu
keberhasilan, dalam studi, berusaha, dan menggapai cita-citanya. Tak mungkin ia
menentukan sendiri arah dan tujuan tanpa bimbingan kita, karena kita adalah
orang tuanya, yang paling dekat dengannya, paling tahu perkembangan dan
kejiwaannya.
Bagaimanapun, orang tua adalah yang
paling banyak berinteraksi dengan si kecil. Merah putih, kuning hitam kehidupan
si kecil tergantung kita dalam membuatnya. Oleh karena itu, salah kalau
menginginkan dia hebat sementara kita tidak berusaha, hanya berpangku tangan,
menggantungkan pada orang lain atau tempat pendidikan saja.
Banyak yang
Keliru
Masyarakat kita ini banyak keliru
dalam mendeskripsikan orang hebat. Umumnya, yang dikatakan orang hebat itu
kalau punya pangkat atau derajat tinggi, materi banyak, dengan gelar yang
berjajar. Intinya, berkutat pada perkara dunia. Padahal tidak seperti itu.
Dalam Islam kalau masalah kehebatan, dunia bukanlah apa-apa dibanding dengan
akhirat. Agama ini memandang bahwa yang namanya orang hebat adalah orang yang
berilmu agama tinggi -seperti seorang ulama-, orang yang gagah berani di medan
laga, dan orang yang berani mengorbankan jiwa raga demi tegaknya agama Allah di
muka bumi ini.
Itulah dia sebenar-benarnya orang hebat. Bisa
kita ambil ibrah dari orang-orang shalih jaman dulu, merekalah contoh dari
orang-orang hebat yang banyak dipuji oleh Allah dan Rasul-Nya.
Bukan maksud menyepelekan orang yang
hebat dalam keduniaan, namun Islam mencela mereka yang hebat dunia namun bodoh
dalam hal akhirat, dan yang begini banyak terjadi. Padahal, agama ini telah
memperingatkan dengan jelas akan kerugian orang orang yang pintar dalam hal dunia tapi bodoh dalam
hal akhirat. Allah subhanahu wa ta'ala berfirman,
“Mereka hanya
mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang
(kehidupan) akhirat adalah lalai.”(Ar-Ruum: 7)
Dengan demikian, sebagai orang tua
perlu mendidik anaknya agar memahami agama terlebih dahulu, karena itulah ilmu
yang paling utama. Bila anak mampu memahami agama, juga mampu mengamalkannya
maka ia akan pula belajar ilmu dunia untuk memenuhi kebutuhan dunianya, untuk
membantu saudaranya, agar ia tak sampai menggantungkan diri pada orang lain.
Orang tua yang berkewajiban mengajarkan anak hukum-hukum agama, baca tulis
Al-Qur'an, akidah, manhaj, dan yang lainnya. Perlu diajarkan pula ilmu dunia,
agar nanti mampu mencari nafkah sendiri dan bisa menjadi anak mandiri.
Tanamkan Pada
Dia
Semua anak berpotensi menjadi orang
hebat, asal kita bisa mengarahkannya dengan benar. Walaupun kemampuan setiap
anak berbeda-beda namun pada dasarnya setiap anak punya kemampuan lebih
dibanding dengan yang lain, yang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya.
Tugas orang tua adalah menyalurkan kemampuan dan bakat anak ke arah yang benar
dengan bimbingan syariat agama. InsyaAllah,
anak kita menjadi anak-anak yang shalih, kuat, dan hebat.
Bagaimana caranya agar bisa
mengarahkan si kecil untuk menjadi orang seperti itu? Tanamkan nilai-nilai
akhlak berikut ini, insyaAlah bisa
jadi penunjuk bagi dia untuk berkembang ke arah sana, yaitu anak hebat
berakhlak mulia.
1. Tanamkan
Kepercayaan
Percaya pada orang lain adalah hal
yang paling mendasar bagi seorang anak agar nantinya ia dapat membina hubungan
dengan orang lain, membentuk rasa percaya dirinya, dan maju dalam setiap tahap
proses perkembangannya. Oleh karena itu, hal itu harus ditanamkan sejak anak
lahir. Dimulai dengan rasa percaya pada orang tua, seperti rasa aman kalau
berinteraksi dengan kita, segera disusui ketika ia lapar, menggantikan popoknya
saat kotor, memeluknya saat ia membutuhkan, dan lain sebagainya. Seiring dengan
itu pula, ia mulai belajar untuk menuhmbuhkan rasa percaya pada orang lain dan
dirinya sendiri. Setiap anak akan menunjukkan perilaku yang berlainan agar
mereka diperhatikan orang tuanya. Semakin anak mengerti bahwa kita memahaminya,
semakin tinggi tingkat kepercayaannya pada kita.
2.Tanamkan
Kesabaran
Kita dapat menanamkan kesabaran
padanya, dengan cara memberi contoh melakukan sesuatu yang butuh kesabaran,
karena anak memiliki perilaku untuk meniru orang-orang di sekitarnya. Ia
melihat, kemudian ia melakukannya.
Membanting pintu saat kita menutupnya
sepulang bekerja karena kepenatan dan kemacetan lalu lintas, merupakan contoh
yang sangat buruk bagi seorang anak.
Tetapi membantu anak membersihkan susu yang ia tumpahkan ke lantai
memberikan penglihatan yang lain bagi dirinya. Untuk melatih kesabaran anak,
ajarilah dia untuk menunggu bukan dalam hitungan waktu, tapi dengan ukuran
suatu keadaan. Jika anak meminta kita untuk mengambilkan sesuatu yang tidak
dapat ia jangkau padahal kita sedang mengerjakan sesuatu, memasak misalnya,
katakana padanya bahwa kita akan mengambilkan apa yang ia inginkan jika Anda telah
selesai memasak, daripada kita mengatakan, “Iya, tunggu lima menit lagi”.
Melalui hal ini, anak akan menilai sendiri berapa lama ia akan mendapatkan
keinginannya dengan menunggu dan memperhatikan kapan kita selesai memasak.
3. Tanamkan
Rasa Tanggung Jawab
Saat anak menjatuhkan botol susunya ke
lantai dan melihat kita mengambilkan botol susu itu untuknya, ia akan
mengulanginya lagi dengan sengaja. Hal ini menandakan bahwa ia mulai mengenal
hubungan sebab akibat dan belajar bahwa ada konsekuensi dari apa yang
dilakukannya. Ini adalah saat dimana kita dapat mulai melatih rasa tanggung
jawab anak dengan memintanya melakukan hal-hal yang mudah, seperti
mengembalikan mainan pada tempatnya. Agar anak juga tahu mengapa ia melakukan
hal itu, kita harus memberitahukan maksud dari sesuatu yang kita ingin ia
lakukan. Selaras dengan pertumbuhan dan perkembangannya, anak membutuhkan waktu
untuk memahami kemudian melakukan sesuatu yang kita minta dalam rangka
mendidiknya untuk mempunyai rasa tanggung jawa. Oleh karena itu, orang tua
tidak dapat memaksakan atau sekaligus menanamkan begitu banyak tanggung jawab
pada seorang anak.
4. Tanamkan
Sikap Kemandirian
Kemandirian akan membantu anak untuk
mempunyai rasa percaya diri dalam menginginkan dan memutuskan sesuatu bagi dirinya.
Kita dapat menumbuhkan kemandirian pada anak dengan cara membiarkannya
melakukan sesuatu yang dapat dilakukan oleh anak seusianya. Saat anak berusia 1
tahun, ajari dia makan sendiri menggunakan sendok, satu tahun berikutnya ajari
dia berpakaian sendiri. Buatlah menjadi lebih mudah sesuatu yang dapat ia
lakukan sendiri, seperti membelikannya sepatu tanpa tali pengikat, atau kaos
yang agak longgar sehingga ia dapat mengenakannya sendiri. Namun saat anak
membutuhkan bantuan kita, berikan kepastian bahwa kita akan membantunya.
Angkatlah ia supaya dapat mengambil mainan yang diinginkannya, saat ia tidak
dapat menjangkaunya. Sesuai dengan pertambahan usianya, buatlah situasi di mana
ia harus memilih satu dari beberapa pilihan. Kunci keberhasilan untuk menumbuhkan
kemandirian pada anak adalah fleksibilitas, menyesuaikan perilaku saat kita
berinteraksi dengan sang anak. Arahkan mereka hanya pada awalnya, kemudian
biarkan mereka melakukan dan memutuskan sendiri sesuatu sesuai dengan proses
perkembangannya menjadi dewasa. Jika orang tua mengintervensi terlalu banyak,
anak akan sulit menumbuhkan rasa percaya diri pada kemampuan sendiri dan ia tak
dapat belajar untuk bertahan saat ia menghadapi kesulitan.
5. Tanamkan
Rasa Empati
Seorang
anak terkadang menunjukkan bentuk primitif dari sikap empati, misalnya dengan
menangis saat ibunya sedang menagis. Sebenarnya seorang anak belum mengerti
akan perasaan orang lain sebelum usianya 3-6 tahun. Seorang anak yang berumur 2
tahun tidak akan tahu bahwa dengan menggigit lengan kakaknya berarti ia telah
menyakitinya, karena pada saat itu ia sendiri tidak merasakan sakit. Untuk
membantu anak memiliki rasa empati, orang tua harus memberitahukan pada anak
saat ia melakukan sesuatu yang dapat menyakiti, membuat sedih atau marah orang
lain. Katakan padanya, bagaimana jika hal yang sama dilakukan pada dirinya.
Katakanlah hal ini berulang-ulang, karena seorang anak umumnya mempunyai sifat
egosentris, ia tidak akan memikirkan sesuatu yang tidak langsung ia rasakan.
Pada dasarnya orang tua harus memberi contoh dengan melakukan segala hal yang
ingin dilakukan anak-anak terhadap orang lain, maksudnya adalah dengan
memberikan perhatian pada setiap kebutuhan mereka serta menghargai perasaan
mereka, karena sikap empati adalah kunci untuk menuju keberhasilan seseorang
dalam bersosialisasi.

Belum ada Komentar untuk "Anak Hebat Berakhlak Mulia"
Posting Komentar