Membaca Al-Qur'an di Bulan Ramadhan dan Lainnya
Kamis, 25 Mei 2017
Add Comment
Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan kepada
hamba-Nya kitab Al-Qur'an sebagai penjelasan atas segala sesuatu, petunjuk,
rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim. Semoga shalawat dan salam
senantiasa tercurah kepada hamba dan rasul-Nya Muhammad, yang diutus Allah
sebagai rahmat bagi alam semesta.
Adalah ditekankan bagi seorang muslim yang mengharap rahmat
Allah dan takut akan siksa-Nya untuk memperbanyak membaca Al-Qur'anul Karim
pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah
Ta'ala, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya. Karena
Al-Qur'anul Karim adalah sebaik-baik kitab, yang diturunkan kepada Rasul
termulia, untuk umat terbaik yang pernah dilahirkan kepada umat manusia; dengan
syari'at yang paling utama, paling mudah, paling luhur dan paling sempurna.
Al-Qur'an diturunkan untuk dibaca oleh setiap orang muslim,
direnungkan dan dipahami makna, perintah dan larangannya, kemudian diamalkan.
Sehingga ia akan menjadi hujjah baginya di hadapan Tuhannya dan pemberi
syafa'at baginya pada hari Kiamat.
Allah telah menjamin bagi siapa yang membaca Al-Qur'an dan
mengamalkan isi kandungannya tidak akan tersesat di dunia dan tidak celaka di
akhirat, dengan firmanNya ''Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia
tidak akan sesat dan tidak akan celaka. '' (Thaha:123)
Janganlah seorang muslim memalingkan diri dari membaca
kitab Allah, merenungkan dan mengamalkan isi kandungannya. Allah telah
mengancam orang-orang yang memalingkan diri darinya dengan firman-Nya: ''Barangsiapa
berpaling dari Al-Qur'an maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar di
hari Kiamat. '' (Thaha : 100)
''Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka
sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya
pada hari Kiamat dalam keadaan buta. '' (Thaha: 124)
Di antara keutamaan Al-Qur'an
1. Firman Allah Ta 'ala :
''Dan Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala
sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri. '' (An-Nahl: 89)
2. Firman Allah Ta'ala .
“... Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang
menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah
mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang
benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. ''
(Al-Ma'idah: 15-16)
3. Firman Allah Ta 'ala :
''Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan
penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta
rahmat bagi orang-orang yang beriman.'' (Yunus: 57)
4. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam :
''Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari Kiamat sebagai pemberi
syafa 'at bagi pembacanya. '' (HR. Muslim dari Abu Umamah)
5. Dari An-Nawwas bin Sam'an radhiallahu 'anhu, katanya :
Aku mendengar Rasul shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :
''Didatangkan pada hari Kiamat Al-Qur'an dan para pembacanya yang mereka itu
dahulu mengamalkannya di dunia, dengan didahului oleh surat Al Baqarah dan Ali
Imran yang membela pembaca kedua surat ini. '' (HR. Muslim)
6. Dari Utsman bin Affan radhiallahu 'anhu, katanya:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
''Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur'an dan
mengajarkannya. '' (HR. Al-Bukhari)
7. Dari Ibnu Mas'ud radhiallahu 'anhu, katanya: Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
''Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu
kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak
mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf
dan mim satu huruf. '' (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih)
8. Dari Abdullah bin Amr bin Al 'Ash radhiallahu 'anhuma,
bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: ''Dikatakan kepada pembaca
Al-Qur'an: ''Bacalah, naiklah dan bacalah dengan pelan sebagaimana yang telah
kamu lakukan di dunia, karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang kamu
baca. ''(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi dengan mengatakan: hadits hasan
shahih).
9. Dari Aisyah radhiallahu 'anhu, katanya: Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
''Orang yang membaca Al-Qur'an dengan mahir adalah bersama para malaikat
yang mulia lagi taat, sedangkan orang yang membaca Al-Quran dengan tergagap dan
susah membacanya baginya dua pahala. '' (Hadits Muttafaq 'Alaih).
Dua pahala, yakni pahala membaca dan pahala susah payahnya.
10. Dari Ibnu Umar radhiallahu 'anhuma, Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda :
''Tidak boleh hasut kecuali dalam dua perkaua, yaitu: orang yang dikaruniai
Allah Al-Qur'an lalu diamalkannya pada waktu malam dan siang, dan orang yang
dikaruniai Allah harta lalu diinfakkannya pada waktu malam dan siang ''(Hadits
Muttafaq 'Alaih).
Yang dimaksud hasut di sini yaitu mengharapkan seperti apa yang dimiliki orang
lain. [Lihat kitab Riyadhus Shaalihiin, hlm. 467-469]
Maka bersungguh-sungguhlah -semoga Allah menunjuki Anda
kepada jalan yang diridhaiNya untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim dan
membacanya dengan niat yang ikhlas untuk Allah Ta'ala. Bersungguh-sungguhlah
untuk mempelajari maknanya dan mengamalkannya, agar mendapatkan apa yang
dijanjikan Allah bagi para ahli Al-Qur'an berupa keutamaan yang besar, pahala
yang banyak, derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi. Para sahabat
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dahulu jika mempelajari sepuluh ayat
dari Al-Qur'an, mereka tidak melaluinya tanpa mempelajari makna dan cara
pengamalannya.
Dan perlu Anda ketahui, bahwa membaca Al-Qur'an yang berguna
bagi pembacanya, yaitu membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya,
perintah-perintahnya dan larangan-larangannya. Jika ia menjumpai ayat yang
memerintahkan sesuatu maka ia pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai
ayat yang melarang sesuatu maka iapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika ia
menjumpai ayat rahmat, ia memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya; atau
menjumpai ayat adzab, ia berlindung kepada
Allah dan takut akan siksa-Nya. Al-Qur'an itu menjadi
hujjah bagi orang yang merenungkan dan mengamalkannya; sedangkan yang tidak
mengamalkan dan memanfaatkannya maka Al-Qur'an itu menjadi hujjah terhadap
dirinya (mencelakainya).
Firman Allah Ta 'ala :
''lni adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah
supaya mereka memperhatikan ayat-ayat-Nya dan supaya orang-orang yang mempunyai
pikiran mendapatkan pelajaran. '' (Shad: 29)
Bulan Ramadhan memiliki kekhususan dengan Al-Qura'nul
Karim, sebagaimana firman Allah :
''Bulan Ramadhan, yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an ... ''(Al-Baqarah:
185)
Dan dalam hadits shahih dari Ibnu Abbas, Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bertemu dengan Jibril pada bulan Ramadhan setiap
malam untuk membacakan kepadanya Al-Qur'anul Karim.
Hal itu menunjukkan dianjurkannya mempelajari Al-Qur'an
pada bulan Ramadhan dan berkumpul untuk itu, juga membacakan Al-Qur'an kepada
orang yang lebih hafal. Dan juga menunjukkan dianjurkannya memperbanyak bacaan
Al-Qur'an pada bulan Ramadhan
Tentang keutamaan berkumpul di masjid-masjid untuk
mempelajari Al-Qur'anul Karim, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: ''Tidaklah berkumpul suatu kaum di salah satu rumah Allah seraya
membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali turunlah
ketenangan atas mereka, serta mereka diliputi rahmat, dikerumuni para malaikat
dan disebut-sebut oleh Allah kepada para malaikat di hadapan-Nya. '' (HR.
Muslim)
Ada dua cara untuk mempelajari Al-Qur'anul Karim
1. Membaca ayat yang dibaca sahabat Anda
2. Membaca ayat sesudahnya. Namun cara pertama lebih baik
Dalam hadits Ibnu Abbas di atas disebutkan pula mudarasah
antara Nabi dan Jibril terjadi pada malam hari. Ini menunjukkan dianjurkannya
banyak-banyak membaca Al-Qur'an di bulan Ramadhan pada malam hari, karena malam
merupakan waktu berhentinya segala kesibukan, kembali terkumpulnya semangat dan
bertemunya hati dan lisan untuk merenungkan. Seperti dinyatakan dalam firman
Allah: “Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyu
'), dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (Al-Muzzammil: 6).
Disunatkan membaca Al-Qur'an dalam kondisi sesempurna
mungkin, yakni dengan bersuci, menghadap kiblat, mencari waktu-waktu yang
paling utama seperti malam, setelah maghrib dan setelah fajar. Boleh membaca
sambil berdiri, duduk, tidur, berjalan dan menaiki kendaraan. Berdasarkan
firman Allah :
''(Yaitu) orang-orang yang dzikir kedada Allah sambil berdiri, atau duduk,
atau dalam keadaan berbaring... ''(Ali Imran: 191). Sedangkan Al-Qur'anul
Karim merupakan dzikir yang paling agung.
Kadar bacaan yang disunatkan
Disunatkan mengkhatamkan Al-Qur'an setiap minggu, dengan
setiap hari' membaca sepertujuh dari Al-Qur'an dengan melihat mushaf, karena
melihat mushaf merupakan ibadah. Juga mengkhatamkannya kurang dari seminggu
pada waktu-waktu yang mulia dan di tempat-tempat yang mulia, seperti: Ramadhan,
Dua Tanah Suci dan sepuluh hari Dzul Hijjah karena memanfaatkan waktu dan
tempat. Jika membaca Al-Qur'an khatam dalam setiap tiga hari pun baik,
berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam kepada Abdullah bin Amr : ''Bacalah
Al-Qur'an itu dalam setiap tiga hari '' [Lihat kitab Fadhaa'ilul qur'an,
oleh Ibnu Katsir, hlm. 169-172 dan Haasyiatu Muqaddimatit Tafsiir, oleh Ibnu
Qaasim, hlm. 107.]
Dan makruh menunda khatam Al-Qur'an lebih dari empat puluh
hari, bila hal tersebut dikhawatirkan membuatnya lupa. Imam Ahmad berkata :
''Betapa berat beban Al-Qur'an itu bagi orang yang menghafalnya kemudian
melupakannya.”
Dilarang bagi yang berhadats kecil maupun besar menyentuh
mushaf, dasarnya firman Allah Ta 'ala:
''Tidak menyentuhnya kecuali hamba-hamba yang disucikan. ''(Al-Waqi'ah:
79)
Dan sabda Nabi shallallahu 'slaihi wassallam : ''Tidak
dibenarkan menyentuh Al-Qur'an ini kecuali orang yang suci. '' (HR. Malik
dalam Al-Muwaththa,Ad-Daruquthni dan lainnya)'' [Hal ini diperkuat hadits Hakim
bin Hizam yang lafazhnya: ''Jangan menyentuh Al-qur'an kecuali jika kamu
suci.'' (HR. Ath-Thabrani dan Al-Hakim dengan menyatakannya shahih]
Al-Qur'anul Karim syari'at sempurna
Asy-Syathibi dalam kitab Al-Muwaafaqaat mengatakan :
''Sudah menjadi kesepakatan bahwa kitab yang mulia ini adalah syari'at yang
sempurna, sendi agama, sumber hikmah, bukti kerasulan, cahaya penglihatan dan
hujjah. Tiada jalan menuju Allah selainnya, tiada keselamatan kecuali dengannya
dan tidak ada yang dapat dijadikan pegangan sesuatu yang menyelisihinya. Kalau
demikian halnya, mau tidak mau bagi siapa yang hendak mengetahui keuniversalan
syariat, berkeinginan mengenal tujuan-tujuannya serta mengikuti jejak para
ahlinya harus menjadikannya sebagai kawan bercakap dan teman duduknya sepanjang
siang dan malam dalam teori dan praktek; maka dekat waktunya ia mencapai tujuan
dan menggapai cita-cita serta mendapati dirinya termasuk orang-orang pendahulu,
dan dalam rombongan pertama jika ia mampu. Dan tidaklah mampu atas hal itu
kecuali orang yang senantiasa menggunakan apa yang dapat membantunya, yaitu
sunnah yang menjelaskan kitab ini. Selainnya, adalah ucapan para imam terkemuka
dan salaf pendahulu yang dapat membimbingnya dalam tujuan yang mulia ini.''
[Lihat AI Muwafaqaat, oleh Asy-Syathibi, 3/224]
Hukum melagukan Al-Qur'an
Pembaca dan pendengar Al-Qur'an yang hatinya disibukkan
dengan lagu dan sejenisnya -yang dapat mengakibatkan perubahan firman Allah-,
padahal kita diperintahkan untuk memperhatikannya; sebenamya menghalangi
hatinya dari apa yang dikehendaki Allah dalam kitab-Nya, memutuskannya dari
pemahaman firman-Nya. Mahasuci firman Allah dari hal itu semua. Imam Ahmad
melarang talhin dalam membaca Al-Qur'an, yaitu yang menyerupai lagu, beliau berkata
: ''Itu bid'ah.”
Ibnu Katsir rahimahullah dalam Fadhaa 'ilul Qur'an
mengatakan: ''Sasaran yang diminta menurut syara' tiada lain yaitu memperindah
suara yang dapat mendorong untuk merenungkan dan memahami Al-Qur'an yang mulia
dengan khusyu', tunduk, dan patuh penuh ketaatan. Adapun suara-suara dengan
lagu yang diada-adakan yang terdiri atas nada dan irama yang melalaikan, serta
aturan musikal, maka Al-Qur'an adalah suci; dari hal ini dan tak layak jika
dalam membacannya diperlakukan demikian.'' [Lihat kitab Fadhaa'ilul qur'an,
oleh Ibnu Katsir, hlm. 125-126]
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ''Irama-irama yang
dilarang para ulama untuk membaca Al-Qur'an yaitu yang dapat memendekkan huruf
yang panjang, memanjangkan yang pendek, menghidupkan huruf yang mati dan
mematikan yang hidup. Mereka lakukan hal itu supaya sesuai dengan irama
lagu-lagu yang merdu. Jika hal itu dapat mengubah aturan Al-Qur'an dan
menjadikan harakat sebagai huruf, maka haram hukumnya. [Lihat Haasyiatu
Muqaddimatit Tafsiir, oleh Ibnu Qaasim, him. 107]
Disalin dari: Risalah Ramadhan; karya Syaikh
Abdullah bin Jarullah bin Ibrahim Al Jarullah.

Belum ada Komentar untuk "Membaca Al-Qur'an di Bulan Ramadhan dan Lainnya"
Posting Komentar