Duh Pembantuku, Engkau Apakan Anakku?
Minggu, 28 Mei 2017
Add Comment
Para pembantu memiliki pengaruh yang sangat
besar, karena mereka memiliki waktu yang lama untuk tinggal bersama anak.
Mereka bertanggung jawab penuh terhadap anak dari mulai mengasuh,
merawat, menyuapi makanan, menyiapkan permainan dan waktu istirahat, menangani
anak ketika menangis, dan memenuhi hampir semua kebutuhan anak, tanpa
mempedulikan apakah hal itu sesuai dengan pendidikan anak atau tidak.
Menurut para pakar ilmu jiwa, masa pertumbuhan dan
perkembangan anak adalah masa perubahan tubuh, intelegensia, emosional
dan kemampuan interaksi yang memberi pengaruh pada utuhnya individu dan
matangnya kepribadian. **1)
Manhaj Islam mengarahkan para pendidik dan orang tua agar
bersikap lemah lembut dan santun kepada anak pada usia balita atau pra sekolah,
karena masa itu sangat memberi pengaruh besar dalam suksesnya proses pendidikan
dan pembentukan kepribadian anak. Seperti sabda RasuluLlah, "Sesungguhnya
Allah Maha Lembut dan cinta kelembutan dalam segala perkara".
Umar bin Khaththab memberi nasehat kepada para
pendidik dan orang tua mengenai cara mendidik
anak pada usia ini. Beliau berkata, "Ajaklah anakmu bermain umur tujuh
tahun, didiklah umur tujuh tahun, dan dampingilah dalam hidupnya umur tujuh
tahun". Artinya, bersikaplah lemah lembut dan ajaklah bermain
sebagaimana Nabi bersikap lemah lembut dan bermain dengan anak-anak Fathimah (cucu
beliau, red). Maka Umar menyuruh para pendidik mempergauli anak dengan baik dan
lemah lembut ketika berusia tujuh tahun, karena pada usia itu, anak mengalami
perubahan dan perkembangan tubuh, intelegensi, emosional, dan daya nalar.
Pendidik harus mengajari anaknya cara berbicara, cara berjalan, bagaimana
bermain dan berolah raga, dan mendidik hidup serius dan bersungguh-sungguh,
bukan hidup yang penuh dengan musik dan nyanyian serta yang lainnya.
Lemah lembut bukan berarti memanjakan anak, karena sikap itu akan merusak masa depan anak, baik dari sisi
psikologi dan kepribadian. Orang tua harus bersikap tegas dan objektif, harus
bersikap seimbang dan memiliki kontrol dalam bertindak. Orang tua harus memberi
pengarahan, bimbingan dan pendidikan kepada anak secara maksimum dan sempurna,
baik bentuk perintah maupun larangan, motivasi dan sanksi, ajakan kepada
kebaikan dan peringatan dari perbuatan tercela. Orang tua juga harus menanamkan
berbagai akhlak dan etika kepada anak sebelum tercemari berbagai tingkah laku
dan akhlak yang tercela dan rusak.
RasuluLlah bersabda, "Setiap anak terlahir dalam
keadaan fitrah, hingga berubah lisannya. Kedua orang tuanyalah yang
menjadikannya Nasrani atau Majusi" **2)
Anak terlahir dalam keadaan putih bersih, dan selanjutnya kondisi anak sangat bergantung kepada pendidikan,
pengarahan dan bimbingan orang tua. Apalagi pada usia kanak-kanak, mereka mulai
mampu menghafal, meniru, dan juga gemar bermain.
Namun, ingatlah bahwa selaku orang tua, Anda tidaklah
sendirian dalam mendidik anak Anda! Banyak pihak yang berperan dalam menentukan
warna pendidikan anak, bahkan kadang peranan mereka lebih intens dibandingkan
orang tua. Dan salah satunya adalah pembantu, atau baby sitter istilah
lazimnya.
Para pembantu memiliki pengaruh yang sangat besar, karena
mereka memiliki waktu yang lama untuk tinggal bersama anak. Mereka
bertanggung jawab penuh terhadap anak dari mulai mengasuh, merawat, menyuapi
makanan, menyiapkan permainan dan waktu istirahat, menangani anak ketika
menangis, dan memenuhi hampir semua kebutuhan anak, tanpa mempedulikan apakah
hal itu sesuai dengan pendidikan anak atau tidak. Akhirnya, pembantu menjadi rujukan
utama bagi anak ketika kedua orang tua tidak ada di rumah, sehingga
pembantu menjadi tempat mengadu. Dari sinilah, sang pembantu mulai menebar
racun pemikiran, ideologi, kebiasaan dan tingkah lakunya kepada anak. Padahal,
di antara pembantu, ada yang kafir dan ada yang muslim. Yang muslim pun, tidak
jarang memiliki kadar agama dan akhlak yang rendah, bahkan memiliki keyakinan
yang menyimpang. Sehingga kita mendapat ada sebagian anak yang menyembah api
dan sebagian lagi menyembah bintang atau patung berhala Budha akibat pengaruh
pembantu ketika mereka jauh dari orang tua.
Waspadalah, wahai para pendidik! Perhatikanlah pendidikan anak-anakmu, dan jauhkanlah mereka dari
pengaruh pendidikan yang merusak dan negatif. Dan jangan biarkan mereka
terpengaruh tingkah laku dan perangai orang-orang rusak dan jahat yang telah
sengaja membuat strategi matang untuk menghancurkan generasi ummat Islam.
Catatan
kaki:
1. Ilmu Nafs ad-Da'awi, hal 181
2. HR. Bukhari, 4775, dan HR. Muslim, 2658
1. Ilmu Nafs ad-Da'awi, hal 181
2. HR. Bukhari, 4775, dan HR. Muslim, 2658
Baca>> Mengapa Harus Menikah?

Belum ada Komentar untuk "Duh Pembantuku, Engkau Apakan Anakku?"
Posting Komentar