Mengapa Harus Menikah?
Minggu, 28 Mei 2017
Add Comment
Berikut beberapa alasan
mengapa harus menikah, semoga bisa memotivasi kaum muslimin untuk memeriahkan
dunia dengan nikah.
Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
4. Bersetubuh
dengan istri termasuk sedekah
1. Melengkapi
agamanya
“Barang
siapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan
hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi. (HR.
Thabrani dan Hakim).
2. Menjaga
kehormatan diri
“Wahai para
pemuda! Barang siapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah,
karena nikah itu lebih mudah menundukkan pandangan dan lebih membentengi farji
(kemaluan). Dan barang siapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa, karena
puasa itu dapat membentengi dirinya. (HSR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi,
Nasaiy, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi).
3. Senda
guraunya suami-istri bukanlah perbuatan sia-sia
“Segala
sesuatu yang di dalamnya tidak mengandung dzikrullah merupakan perbuatan
sia-sia, senda gurau, dan permainan, kecuali empat (perkara), yaitu senda
gurau suami dengan istrinya, melatih kuda, berlatih memanah, dan
mengajarkan renang.” (Buku Adab Az Zifaf Al Albani hal 245; Silsilah Al Ahadits
Ash Shahihah no. 309).
Hidup berkeluarga merupakan ladang meraih pahala
Pernah ada
beberapa shahabat Nabi SAW berkata kepada beliau, “Wahai Rasulullah,
orang-orang kaya telah memborong pahala. Mereka bisa shalat sebagaimana kami
shalat; mereka bisa berpuasa sebagaimana kami berpuasa; bahkan mereka bisa
bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Beliau bersabda, “Bukankah Allah
telah memberikan kepada kalian sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Pada
tiap-tiap ucapan tasbih terdapat sedekah; (pada tiap-tiap ucapan takbir
terdapat sedekah; pada tiap-tiap ucapan tahlil terdapat sedekah; pada tiap-tiap
ucapan tahmid terdapat sedekah); memerintahkan perbuatan baik adalah sedekah;
mencegah perbuatan munkar adalah sedekah; dan kalian bersetubuh dengan istri
pun sedekah.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, kok bisa salah seorang
dari kami melampiaskan syahwatnya akan mendapatkan pahala?” Beliau menjawab,
“Bagaimana menurut kalian bila nafsu syahwatnya itu dia salurkan pada tempat
yang haram, apakah dia akan mendapatkan dosa dengan sebab perbuatannya itu?”
(Mereka menjawab, “Ya, tentu.” Beliau bersabda,) “Demikian pula bila dia
salurkan syahwatnya itu pada tempat yang halal, dia pun akan mendapatkan
pahala.” (Beliau kemudian menyebutkan beberapa hal lagi yang beliau padankan
masing-masingnya dengan sebuah sedekah, lalu beliau bersabda, “Semua itu bisa
digantikan cukup dengan shalat dua raka’at Dhuha.”) (Buku Adab Az Zifaf Al
Albani hal 125).
5. Adanya
saling nasehat-menasehati
6. Bisa
mendakwahi orang yang dicintai
7. Pahala
memberi contoh yang baik
“Siapa saja
yang pertama memberi contoh perilaku yang baik dalam Islam, maka ia mendapatkan
pahala kebaikannya dan mendapatkan pahala orang-orang yang meniru perbuatannya itu
tanpa dikurangi sedikit pun. Dan barang siapa yang pertama memberi contoh
perilaku jelek dalam Islam, maka ia mendapatkan dosa kejahatan itu dan
mendapatkan dosa orang yang meniru perbuatannya tanpa dikurangi sedikit pun.”
(HR. Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Orang yang pertama kali melakukan
kebaikan atau kejahatan.)
Bagaimana
menurut Anda bila ada seorang kepala keluarga yang memberi contoh perbuatan
yang baik bagi keluarganya dan ditiru oleh istri dan anak-anaknya? Demikian
juga sebaliknya bila seorang kepala keluarga memberi contoh yang jelek bagi
keluarganya?
8. Seorang
suami memberikan nafkah, makan, minum, dan pakaian kepada istrinya dan
keluarganya akan terhitung sedekah yang paling utama. Dan akan diganti oleh
Allah, ini janji Allah.
Dari Abu
Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: “Satu dinar yang kamu
nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang kamu nafkahkan untuk memerdekakan
budak, satu dinar yang kamu berikan kepada orang miskin dan satu dinar yang
kamu nafkahkan kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya yaitu satu
dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu.” (HR Muslim, Buku Riyadush
Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).
Dari Abu
Abdullah (Abu Abdurrahman) Tsauban bin Bujdud., ia berkata: Rasulullah SAW
bersabda: “Dinar yang paling utama adalah dinar yang dinafkahkan seseorang
kepada keluarganya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraan di jalan Allah, dan
dinar yang dinafkahkan untuk membantu teman seperjuangan di jalan Allah.” (HR.
Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga).
Seorang
suami lebih utama menafkahkan hartanya kepada keluarganya daripada kepada yang
lain karena beberapa alasan, diantaranya adalah nafkahnya kepada keluarganya
adalah kewajiban dia, dan nafkah itu akan menimbulkan kecintaan kepadanya.
Muawiyah bin
Haidah RA., pernah bertanya kepada Rasulullah SAW: ‘Wahai Rasulullah, apa hak
istri terhadap salah seorang di antara kami?” Beliau menjawab dengan bersabda,
“Berilah makan bila kamu makan dan berilah pakaian bila kamu berpakaian.
Janganlah kamu menjelekkan wajahnya, janganlah kamu memukulnya, dan janganlah
kamu memisahkannya kecuali di dalam rumah. Bagaimana kamu akan berbuat begitu
terhadapnya, sementara sebagian dari kamu telah bergaul dengan mereka, kecuali
kalau hal itu telah dihalalkan terhadap mereka.” (Adab Az Zifaf Syaikh Albani
hal 249).
Dari Sa’ad
bin Abi Waqqash RA., dalam hadits yang panjang yang kami tulis pada bab niat,
ia berkata: Rasulullah SAW bersabda kepadanya: “Sesungguhnya apa saja yang kamu
nafkahkan dengan maksud kamu mencari keridhaan Allah, niscaya kamu akan diberi
pahala sampai apa saja yang kamu sediakan untuk istrimu.” (HR. Bukhari dan
Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah terhadap keluarga)
Dari
Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Seseorang
cukup dianggap berdosa apabila ia menyianyiaka orang yang harus diberi
belanja.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab Memberi nafkah
terhadap keluarga).
Dan
akan diganti oleh Allah, ini janji Allah
“Dan barang
apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.” (Saba’: 39).
Dari Abu
Hurairah RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda: “Setiap pagi ada dua malaikat yang
datang kepada seseorang, yang satu berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti kepada
orang yang menafkahkan hartanya.” Dan yang lain berdoa: “Ya Allah, binasakanlah
harta orang yang kikir.” (HR. Bukhari dan Muslim, Buku Riyadush Shalihin Bab
Memberi nafkah terhadap keluarga).
Janji
Allah berupa pertolongan-Nya bagi mereka yang menikah.
1. Dan
kawinkanlah orang-orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak
(berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika
mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah
Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui. (An Nur: 32)
2. Ada tiga
golongan manusia yang berhak Allah tolong mereka, yaitu seorang mujahid fi
sabilillah, seorang hamba yang menebus dirinya supaya merdeka dan seorang
yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya. (HR. Ahmad 2: 251,
Nasaiy, Tirmidzi, Ibnu Majah hadits no. 2518, dan Hakim 2: 160)

Belum ada Komentar untuk "Mengapa Harus Menikah? "
Posting Komentar